Recent Posts

Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 September 2012

Ironic



Akhir-akhir ini sering muncul suatu ironi yang membentuk sebuah paradoks kait mengait antara opini dan fakta, kadang hasilnya membuat ku ingin tertawa pahit, tersenyum nyinyir, atau senyum yang benar-benar bahagia. Kejadian-kejadian itu ironis, dan aku ingin membagikannya untuk kalian. Hanya sebuah cerita dan pelajaran hidup saja. Ini nyata!
***
Aku punya keluarga besar. Nenek ku mempunyai 12 orang anak, satu diantaranya sudah dipastikan orang tua ku, yap dia adalah ibuku. Ibuku mempunyai seorang adik perempuan yang dulunya sama seperti ibuku dan saudara-saudara ibuku lainnya, entah mengapa saat menginjak usia dewasa tanteku menjadi tidak senormal mereka. Dia mengalami sedikit gangguan jiwa. Gangguannya memanglah tidak parah. Dia masih bisa diajak mengobrol atau berdiskusi, dia tetaplah menyenangkan seperti dulu, meskipun aku sudah lupa dulu dia seperti apa-_-- tapi itulah dia, menurutku dari ribuan bahkan jutaan orang yang pernah bertatapan muka denganku hanya dialah satu-satunya orang yang benar-benar ikhlas dalam menjalani hidup, ikhlas untuk dirinya sendiri ataupun orang lain, mungkin hanya dialah kenalanku yang tidak pernah menyelinapkan kata ‘imbalan’ di pikirannya dengan segala keterbatasan yang dimilikinya. Mungkin sebagian orang akan mengucilkan  dia saat pertama kali bertatap muka, bahkan aku yakin anak kecil akan takut melihat dia karena baju usang, rambut acak-acakan, beberapa karet di pergelangan tangan, sekitaran 4 bando di kepalanya, dan seringnya dia berbicara sendiri. Anehnya setelah beberapa pertemuan banyak orang yang akrab dengan dia, semua sepupu dan keponakanku akrab dengan dia, orang dan anak-anak di sekitar rumah pakdeku, tempat dia tinggal,  semua pedagang keliling, akrab dengan dia. Tak ada satupun orang yang memandang remeh, kecuali mereka-mereka yang kelainan hati akut . Aku sering tanya mengapa dia berpakaian begitu kepada tanteku itu. Bila dibahasakan dengan baik dan teratur mungkin jawabannya jadi seperti ini: ini hanyalah sebuah prinsip, Dek. Dia berpegang teguh dengan prinsip yang pikirannya anut, meskipun itu terlihat ganjil bagi orang-orang, keluargaku sudah memakluminya.
Yang mengagetkan di umurnya yang hampir mencapai setengah abad dia tiba-tiba menginginkan untuk mempunyai sebuah sepeda kayuh, dan kalian tahu apa yang dia lakukan untuk mewujudkan mimpinya? Dia berjulan. Oke, dalam kondisi yang seperti itu setidaknya dia masih mau berusaha. BERUSAHA! Jualannya memang tidaklah seberapa, hanya satu kantung plastik barang jualan. Dalam kantung plastik putih itu ada beberapa snack, permen, yakult, dan rambak. Satu lagi yang aku kagumi dari dia, otaknya dipenuhi semangat yang meluap-luap dan hampir tumpah, dengan semangatnya itu dia tidak enggan memulai berjualan pukul setengah 5 pagi di masjid dekat rumah pakdeku. Yap saat orang-orang sedang sholat subuh, dia menunggu dan menawari mereka saat mereka sudah selesai dengan tugasnya kepada Allah. Entah karena iba atau memang ingin membeli, jualan tante ku selalu laku karena orang-orang itu. Tak hanya subuh, sore hari saat anak-anak kecil sedang mengaji dia juga berjualan di masjid, sedikit demi sedikit laba berjualan ia kumpulkan dalam kaleng yang ia titipkan di budeku. Hingga jumlahnya hampir mencapai 200.000. Daaaaaaaaaan, tante ku sebut saja tante sinta yang keadaan ekonominya tidak mampu mau meminjam sebagian uang hasil jualan nya. Padahal suami tante sinta punya banyak kelebihan. Dia masih sehat wal afiat, berbadan bugar, lebih muda dari umur tanteku yang berjualan itu, dan gagah. Hanya satu kekurangan dia yaitu tidak punya pekerjaan. Kalau diusut-usut lebih lanjut mungkin lebih tepatnya kekuranganan oom ku adalah malas  untuk mencari pekejaan dan menafkahi keluarganya, akhirnya tante usaha luntang lantung mencari pinjaman. 
Baiklah, kalau sekarang aku bertanya pada kalian “Apa yang ada dalam pikiran kalian saat ini?” Sebelum kalian menjawab pasti aku akan bilang “Ya, itulah ironi yang menginap di pikiranku selama ini”. The end of story.

Selasa, 24 Juli 2012

OMW to the STAR pt.2

Mau ngelanjutin postingan yang kemarin, setelah sempat males buat postingan selama beberapa hari. Check it out~
***
Waktu itu aku memilih panlok Malang, karena banyak orang yang bilang kalau aku memilih perguruan tinggi di Jogja dan Malang, maka aku harus memilih tempat ujian di Jogja atau Malang juga, katanya biar masuk. Padahal bukan seperti itu aturannya-__- harusnya seperti ini:
Peserta harus memilih tempat ujian yang sama dengan regional salah satu perguruan tinggi yang peserta pilih.
Jadi, kalo aku pilih Jogja dan Malang, aku bisa milih panlok Surabaya atau Solo. 
Tapi karena banyak yang nyaranin untuk ujian di Malang, akhirnya aku ngikut juga._.v Lokasinya di SMAN 8 Malang. 
Aku belajar setiap hari, karena aku nggak mau gagal. Lumayanlah, tapi juga ga maksimal. Grade jurusan yang aku pilih benar-benar tinggi T.T 
Aku suka ngambil resiko._.v 


Di Malang aku tinggal di rumahnya saudara teman seperjuangan yang ikut snmptn tulis juga. Aku juga ga henti-hentinya berdoa. Semenjak aku tidak lolos di snmptn undangan, hubungan antara aku dan Allah jadi semakin dekat. Inilah yang aku suka dari sebuah kegagalan :)
Aku memang percaya kalau kepintaran manusia benar-benar ikut andil dalam snmptn tulis ini, tapi aku lebih percaya lagi bahwa ridlo Allah berandil lebih besar, everything possibly happen. Hari-hari yang aku tunggu pun tiba. Percaya apa nggak, aku tidak pernah merasa se deg-deg an ini untuk mengikuti tes apapun, serius. Ini efek takut gagal, tapi aku berusaha menghilangkan rasa grogi itu, ibu sedari tadi sudah telpon dan menenangkan, dan sekarang aku sudah siap.

Seperti ini nih suasana pas snmptn membeku kan-___- sebenarnya itu cuma perasaan kita aja sih yang over.


Hari 1 (Tes Potensi Akademik, Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris) 
OMG ini pertama kalinya aku ga selesai baca soal TPA. Come on, try out di bimbel dengan waktu yang lebih sedikit aku bisa nyelesain sampai akhir-_- pasti efek grogi. Lagipula kelas ujian ku saat itu waktunya dipotong 10  menit, kelas lain belum pada selesai ngerjain, eh lembar jawaban kelasku udah pada diambilin. Tak apalah, ini takdir Allah. wkwk seperti itulah aku. Apa yang terjadi baik atau buruk, itu sudah takdir. Toh aku sudah usaha.

Hari 2 (Tes Matematika IPA, Fisika, Biologi, Kimia)
Percaya apa nggak aku mengerjakannya dengan sangaaaaaaaaaaat hati-hati. Aku hanya menjawab apa yang  aku yakin benar. Sebenarnya ada beberapa soal yang aku temukan jawabannya, tapi karena aku ga yakin benar akhirnya ga dijawab, dan aku pasraaaaaaaaaaaaaah :'((

Selesai snmptn aku sedikit stres gara-gara yang aku jawab cuma sedikit, aku takut nggak lolos, tahu ku cuma snmptn lah yang bisa buat biaya kuliah jadi sedikit lebih murah. Aku cuma nggak mau merepotkan. Whatever will be will be lah. Aku selalu inget kata-kata yang sudah aku diskusikan dengan temanku:
Biarlah Allah yang berkuasa, percayailah apa yang akan terjadi besok adalah apa yang kamu benar-benar butuhkan besok. Sebagian orang beruntung, karena apa yang mereka butuhkan adalah yang mereka inginkan. Tapi sebagian orang lagi buta dengan keinginan mereka yang sebenarnya tidak dibutuhkan. 
Wah, kata-kata yang super itu sangat manjur untuk menenangkanku.  

to be continued...

Kamis, 12 Juli 2012

It's For All

Hehehe sorry kalo postingan yang ini repost dari posting di note facebook ku. Ga tau kenapa sukaaa banget sama postingan ini. Ini proyek waktu ultah ku yang ke 16, by the way buatnya sehari sebelum ultah, tapi baru bisa posting di facebook 14 Desember 2010,2 hari setelah ultah :(( Isinya gak hanya posting biasa loo, there are something different. Okee langsung capcus, check this out :D
***

Setidaknya sekarang aku sudah menginjak umur yang lebih tua dari sebelumnya. 16 tahun bukan angka yang mudah diucapkan seperti 1, 2, 3 , 4 yang hanya terdiri dari dua suku kata. Rintangan lambat laun mulai terangkai dalam lajur hidupku. Kalau beruntung dapat terlewati kalau tidak ya jatuh. Haha rasanya terinjak terhempas sudah biasa meski ini baru awal perjalan. Bila masalah sudah bertubi-tubi hati kecilku cuma bisa berbisik everythings gonna be okay, sekedar mengurangi kekhawatiran. Setidaknya di umur ku yang mulai menua ini aku masih bisa berdiri dengan kedua kakiku meski belum bisa dibilang tegak sempurna. Tetap semangat ! Aku bisa berdiri karena ada orang-orang yang selalu berusaha memegangiku, aku tahu dan itu tak dapat dipungkiri. Meski jika aku hampir roboh terkadang aku merasa tak ada satupun yang ada disampingku. Tapi aku tahu itu salah, So sorry :). Aku sadar ku tak mampu berdiri raih semua mimpi tanpa cahya cinta sejati mereka, mereka benar-benar ada until all the trouble fade away.
Sebelumnya di umurku ke 15 aku sering merasa jika aku menjadi manusia yang semakin buruk dalam hati bahkan moral. Bukan karena apa ? itulah fase hidupku saat aku mulai mengenal dunia yang berbeda dengan masa kecilku. Dan itu juga merupakan salah satu bentuk apa yang ingin akuXpresikan, meskipun jatuhnya berantakan. Tapi aku tidak menyalahkan dunia di sekitarku. Yang bersalah hanya aku tak mampu memilah mana yang benar dan mana yang salah. di tahun ke 15 mungkin aku mulai merasakan apa yang dirasakan oleh anak lain seumuranku. semuanya hanya berlalu begitu saja, tanpa adanya usaha dari ku untuk menegakkan rasa itu, karena apa ? karena akuberat tuk mengucap cukup untuk ku kagumi. Perlahan tapi pasti aku mulai mengenal berbagai macam masalah kehidupan yang dapat aku petik dari masalah-masalah temanku yang baru ku sadari, mereka merasakan hal yang lebih berat dari hidupku ini. Perbandingannya jauh. Hanya aku yang sombong berkoar-koar kalau masalahku berat.
Okey. This little [little?] note is For All yang udah berperan dalam hidupku. Berawal dari orang-orang yang menambahkan cap pada diri mereka sebagai orang yang membenciku. Disini aku ga berhak bilangfvck that damn shit atau kata-kata sejenisnya pada mereka. Please dong ah mereka juga merupakan salah satu pengukur baik atau bertambah burukkah diriku. Bila jumlah mereka semakin banyak berarti bertambah buruk so just simple. Tapi apa mungkin mereka itu adalah orang-orang yang iri dengan hidup bahkan diriku? ga berani di depan di belakang banyak gaya, karena rata-rata aku tahu cap mereka bukan dari mulut mereka. Siapa tau ? tapi turn it to positive don’t think to negative aja. Mereka ngecap karena ada sebab. Tenang saja kawan aku tidak membenci kamu :)
Sekarang mari kita bicara masalah teman. Haha teman. Still hot. Teman yang ada saat aku senang dan tetap ada saat aku susah. It’s a good time to say thanks to Glofaria, ABCD, and my lovely homemates.  Aku bangga sama kalian berusaha di sampingku. Meski aku ga bisa menjadi seperti yang kalian inginkan. Aku harap kalian tetap stay on the line of my life dan aku ga akan segan-segan bilang “yo sobat yo sobat jangan jadi pengkhianat!”wow kata-kata yang berat apa jadinya hidupku jika suatu saat nanti aku mengucap itu mungkin aku hanya bisa terkubur dalam detik yang berputar.  Kalian sangat berperan dalam goresan goresan tinta hidupku hanya satu inginku kita tetap berpegang tangan dan saling berpelukan. Aku berusaha ga peduli apa kata mereka tentang kalian dan aku, konflik adalah biasa yang harus kita lakukan hanya merespect perbedaan, kalian ada di hatiku kalian nyata dan tidak hanya fatamorgana. Love ya all !
Sahabat. Kata yang cukup berat meskipun perlahan-lahan akan terucap. Kalian dalam di hidupku. Sahabat terbaik dalam mengejar mimpi teman terhebatku untuk dapat berdiri, kawan yang tepat untuk sharing-sharing hal-hal kecil. It’s all of you. You’re the best one. Meski terlihat maya, goresan sahabat tetap akan nampak dalam hidupku. Take my hand come with meakan kugenggam erat tangan kalian bila kalian terlihat akan tumbang dan satu lagi ini tentang rasa percaya kawan. So just sorry. Tak tau apa sudah layakkah aku di panggil sahabat. Aku hanya lakukan apa yang aku bisa, bukan memaksakan yang tak aku bisa. Mencoba satukan jiwa yang telah tercipta antara kita. Aku yakin suatu saat we gonna rock the world and we wont stop. Love ya too my lovely bestfriend :)
Hater-teman-sahabat-keluarga. Keluarga it’s the only part that always behind me. However I  wanna be. Ibu, bapak, mbak, mas merupakan sosok yang punyai arti besar di hidupku. You always stay with me. Benar-benar menjadi pendamping permanen ku saat galau. Sosok-sosok yang terangi aku dengan cinta slimuti aku dengan kasih. Cinta dan kasih yang tulus tepatnya. Tanpa mendambakan setitik balaspun. Meski sering kali aku menggoreskan sedikit luka  dalam perjalanan mencari jati diri. I can say sorry only. Dan berjanji esok pasti kan lebih baik. Berjalan dengan kenyataan kupastikan semua tetap tercipta dalam lembar-lembar pembuktianku. A big love for ya :)
Last but not least. Sedikit goresan tentang harapan dan asa ku meski seperti bumi ke langit tapi tak apalah. Karena hidup berawal dari mimpi kawan. Namun ini hanya sekian mimpi dalam hati kecil ku. Let’s check this out. Semoga seiring bertambahnya umurku yang tak layak dipanggil anak-anak ini aku bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya, menjadi seseorang yang benar-benar bisa memilih mana yang benar atau salah, menjadi hamba yang baik, anak yang baik, saudara yang baik, sahabat yang baik, dan teman yang baik bagi kalian semua.  Intinya semoga aku bisa bahagia dunia dan akhirat. Amin. Dan satu lagi semoga kita bisa jadi sang juara bagi diri kita. That’s all. Save our soul and keep respect always. Kalo ga suka di tag ngomong yaa :D[desi.echi.mput.soeb.ev.desput.eph ge syuaibun.mb sem.semprul.ndul]


***
I loooooooooooove it so much, because I got a great appreciation from readers :) 




Senin, 23 April 2012

This Is A Story ? Yes, It's A True Story (My Father's Biography)



Abdul Rahman lahir pada tanggal 30 Agustus 1964 di sebuah kota ujung timur pulau Jawa, Banyuwangi. Tepatnya, Wongsorejo sebuah kecamatan di Banyuwangi bagian utara yang terkenal dengan penduduk yang masih kedaerahan dan hampir semua penduduknya berdarah Madura. Abdul Rahman termasuk salah satunya. Beliau dilahirkan di keluarga yang sangat sederhana sebagai anak ketiga. Ayah beliau Sahri, adalah seorang petani dan ibu beliau Misriyah sebagai ibu rumah tangga yang terkadang membantu suaminya di tegalan (tanah pertanian yang biasanya ditanami dengan jagung, singkong dan kacang hijau dengan tanah yang tidak cukup subur). Sayang masa-masa Abdul Rahman dengan ayahnya hanya berlangsung beberapa tahun saja, karena pada saat beliau menginjak bangku sekolah dasar di tahun-tahun pertama, ayahnya meninggal. Sifat anak-anak desa yang bersemangat tinggi dan tidak mau lama-lama berkubang dengan kesedihan, sangatlah melekat dengan Abdul Rahman. Setelah kepergian ayahnya, Dul panggilan akrab Abdul Rahman semakin rajin membantu ibunya. Bergantian dengan kakaknya mencari rumput untuk makanan kambing, sapi, dan kuda yang biasa dia lakukan sepulang sekolah. Layaknya anak kecil pada umumnya, Dul sering menghabiskan waktunya untuk bermain bersama teman-temannya. Mulai dari gobak sodor, engklek, sampai kelereng. 
Dul bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Wongsorejo. Pada saat itu biaya sekolah sangatlah murah, sehingga memungkinkan untuk semua kalangan bisa mengenyam pendidikan sekolah dasar. Jadi, semuanya tergantung pada kemauan anak untuk belajar ataupun tidak. Pada saat itu teman-teman Dul hampir semuanya bersekolah, hal ini merangsang Dul untuk ikut bersekolah dan belajar. Dul pernah bekerja pada waktu kecil. Saat Dul kelas tiga SD, dia merawat dan memelihara ayam petelur milik seorang dokter yang membuka praktek di Wongsorejo. Sepulang sekolah dia pergi ke rumah dokter, melaksanakan pekerjaan tersebut bersama dua temannya, dan pulang ke rumah saat matahari merendah di ufuk barat. Pekerjaan ini hanyalah sebuah sambilan, anak kecil yang bekerja sangatlah wajar di Wongsorejo, karena anak-anak desa kala itu ingin sekali bisa menghasilkan uang sendiri, hanya untuk kepuasan. Menghasilkan uang sendiri, sangatlah tren di dunia anak SD pada saat itu. Meskipun upahnya tidak seberapa, uang hasil kerjanya bisa dia pakai untuk membeli barang-barang yang biasa diinginkan oleh anak-anak seumurannya. Dul berhasil lulus SD pada tanggal 7 Mei 1979.
Setelah mengenyam pendidikan dasar di SD Wongsorejo 1, Dul melanjutkan sekolahnya ke SMP penyetaraan yang masih berlokasi di Wongsorejo, yaitu Sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama Negeri 2 Banyuwangi. Hari-hari yang ia lalui masih sama dengan rutinitasnya kala SD. Masih bekerja sambilan menjaga ayam petelur milik dokter. Namun pada saat awal Dul SMP kelas satu, dokter Prayitno, pindah ke Jogjakarta. Pada saat itu Dul sempat ditawari untuk ikut dengannya bersekolah di Jogjakarta atau tetap di Banyuwangi. Dul yang masih kanak-kanak, lebih memilih untuk tidak ikut, ia masih ingin tinggal dengan ibu yang ia sayangi, tak tega rasanya meninggalkan ibunya dengan kakak dan 2 adiknya yang masih kecil. Sejak kepindahan dokter tersebut ke Jogjakarta, hari-hari Dul lebih dipenuhi oleh rutinitas belajar, bermain, dan membantu ibunya. Hal tersebut berlangsung selama beberapa bulan, sampai pada suatu hari ada yang menempati rumah Dokter Prayitno yang kosong itu, masih dengan orang berpekerjaan sama, dialah Dokter Bambang Setiawan Sukirno. Ternyata, sebelum Dokter Prayitno pindah ke Jogjakarta, dia berkata pada Dul, bahwa Dul akan dititipkan ke Dokter Bambang yang akan menempati rumahnya itu. Jadilah Dul bekerja sambilan juga di rumah dokter Bambang. Pada saat itu, kedua teman Dul yang dulu bekerja bersama-sama dia  di Rumah Dokter Prayitno tidak ikut bekerja di Rumah Dokter Bambang. Kali ini, Dul tidak bertugas menjaga ayam petelur, dia bertugas untuk mengantarkan anak Dokter Bambang yang masih TK ke sekolah, manjemputnya, dan terkadang Dul membantu membersihkan rumah dan mencuci piring.
Dul saat SMP
Lama kelamaan Dokter Bambang menganggap Dul sebagai anaknya sendiri. Dia menyuruh Dul untuk tinggal di rumah Dokter Bambang. Dokter Bambang berniat menyekolahkan Dul, sampai lulus. Akhirnya Dul tinggal bersama Dokter Bambang, namun sesekali Dul pulang ke rumah ibu nya. Keluarga Dokter Bambang sangatlah baik kepadanya. Sebagai bentuk terimakasih kepada Dokter Bambang, tak jarang Dul pergi ke tempat praktek yang berada di sebelah rumah Dokter Bambang, dan mengepelnya. Saat Detik-detik terakhir masa Dul di bangku sekolah menengah pertama, Dul dikabari bahwa Dokter Bambang akan pindah ke Songgon, salah satu daerah di Banyuwangi bagian selatan. Seperti yang dilakukan Doker Prayitno, Dokter Bambang pun menawari Dul untuk ikut bersamanya melanjutkan SMA di daerah sana. Setelah melalui pemikiran panjang, akhirnya Dul memutuskan untuk ikut bersama Dokter Bambang dan keluarganya di Songgon. Dul ingin melanjutkan sekolahnya dan ketika lulus bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Dia tidak mau menyusahkan ibunya, karena Dul sadar bahwa ibunya yang ada di desa tidak punya cukup uang untuk membiayai dia dan saudara-saudaranya bersekolah. Dul sangat tidak tega untuk terus-terusan meminta ibunya yang tinggal sendiri itu untuk membiayai dirinya. Dul tamat SMP pada tanggal 2 Juni 1982.
Saat tinggal bersama Dokter Bambang dan keluarganya di Songgon, Dul diterima di SMA swasta PGRI Rogojampi. Sehari-hari Dul mengendarai vespa biru untuk sampai di sekolahnya yang saat itu sedang menganggur di rumahnya. Jarak rumah Dul dengan sekolahnya cukup jauh, karena berbeda kecamatan, yaitu sekitar 15 km. Dul sangat menyukai olahraga, dia sangat menanti-nanti hari Jumat, karena pada hari itu ada pelajaran Olahraga. Dul suka bersepakbola di lapangan Rogojampi bersama teman-temannya. Saat Dul duduk di bangku SMA kelas tiga, Dokter Bambang dipindahtugaskan ke Banyuwangi. Akhirnya, Dul dan keluarga Dokter Bambang tinggal di Banyuwangi, di perumahan PEMDA Jalan Letkol Istiqlal. Pada tanggal 30 April 1985 bermaterai Rp 100,-, Dul lulus SMA. Dokter Bambang yang menjadi walinya selama 6 tahun tersebut, menawari Dul 3 pilihan. Pilihan yang pertama adalah berkuliah di Jogjakarta, karena pada saat itu Dokter Bambang juga berniat untuk melanjutkan perkuliahannya di Jogjakarta. Pilihan yang kedua adalah bekerja, dan pilihan yang terakhir adalah menikah. Dengan pasti Dul memilih untuk bekerja, karena tujuan awal Dul menamatkan sekolahnya dari sekolah dasar sampai SMA, adalah untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Akhirnya Dokter Bambang, menitipkan Dul ke temannya yaitu Dokter Mulyadi. Dokter Bambang tinggal di Jogjakarta dan Dul tinggal dengan Dokter Mulyadi, yang akrab dipanggil Dokter Mul..
Foto ijazah sma Dul
Dokter Mul adalah kepala Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan Banyuwangi. Beliau menjadikan Dul sebagai salahsatu pegawai RSUD Blambangan. Dul sangat senang bisa bekerja di RSUD Blambangan Banyuwangi, mekipun dia hanyalah pegawai honorer di sana. Setiap beberapa bulan sekali dia kembali ke kampung halamannya, menjenguk Ibu, Kakak, dan dua adiknya yang masih tinggal di Wongsorejo. Dokter Mul membuka praktek di rumahsakit Islam Banyuwangi. Dul sering mengantar dan menjemput Dokter Mul disana. Saat itulah kisah cintanya di mulai. Hatinya tertambat saat pertama kali bertemu dengan seorang gadis yang bekerja sebagai pegawai di rumahsakit tersebut. Dia bernama Kelut Ariowati, cinta pertama Dul. Rasa cinta Dul kepada gadis ini sangat tidak bisa di toleransi lagi. Dul mencari-cari infomasi tentang gadis itu, melalui teman-temannya. Hingga akhirnya Dul dapat berkenalan dengan Kelut yang lebih sering disapa Ari tersebut. Pada awal pertemuannya Ari bersifat acuh tak acuh kepada Dul yang sudah jatuh cinta kepadanya, karena Ari tahu usia antara Dul dan dirinya terpaut cukup jauh, yaitu lima tahun. Hal ini yang membuat Ari berpikir bahwa dirinya tidak mungkin menjalin asmara dengan Dul. Tapi Dul yang bersemangat tinggi tetap menjalankan targetnya untuk bisa memiliki hati Ari. Pernah di suatu hari, saking ingin tahunya tempat tinggal Ari, Dul membuntuti Ari saat Ari pulang dari kerja. Saat di jalan Ari menyadarinya, namun Ari membiarkannya. Tapi, ternyata Dul mengikuti Ari sampai rumah kakaknya. Ari memang tinggal dengan kakaknya. Mengetahui hal itu, Ari cepat-cepat masuk ke rumah dan memberitahu orang serumah bahwa ada laki-laki yang mengikutinya sampai ke rumah. Kakak Ari pun keluar rumah dan menemui Dul. Dul menceritakan maksud dan tujuannya mengikuti Ari sampai ke rumah kepada kakak Ari, dia juga menyatakan keseriusannya bahwa dirinya benar-benar mencintai Ari. Ari pikir setelah berbicara dengan kakaknya Dul akan pulang ke rumahnya, tapi ternyata tidak. Dari situ, Ari tahu bahwa Dul benar-benar tulus mencintainya, anggapan bahwa Dul masih bersifat kekanak-kanakan sirna sudah. Dul menjalin hubungan dengan Ari selama hampir 3 tahun.
Dul di RS Islam, tempat kerja Ari
Pada tanggal 26 Maret tahun 1988 jam 08.00, Dul meminang Ari, perempuan yang sanggup menaklukan hatinya sampai sedemikian rupa. Disaksikan Keluarganya dan wali-walinya serta keluarga Ari, proses akad nikah berjalan dengan lancar. Pernikahan Dul dengan Ari bersamaan dengan pernikahan kakak wanita Ari. Setelah menikah dengan Ari, Dul dan Ari tinggal di rumah kakak Ari. Anak pertama Ari lahir pada tanggal 12 Januari 1989 yang diberi nama Enis Rahmawati. Pemahaman orang jawa, bahwa kehadiran anak pada suatu keluarga akan memberikan berkah, terjadi pada saat itu. Benar saja, tak berapa lama setelah kelahiran anak pertamanya, Dul diangkat sebagai pegawai negeri sipil. Anak kedua Dul dengan Ari lahir pada tanggal 9 Februari 1991, Dul memberi nama Prayogi Febri Atmanegara. Selang dua tahun dari kelahiran Yogi, Dul dan Ari pindah dari rumah kakaknya,  mereka mengontrak rumah yang berlokasi dekat dengan Rumahsakit Islam Banyuwangi, tempat kerja Ari. Wajar, sebagai pasangan baru mereka harus memanage keuangan mereka sebisa mungkin, salahsatunya mengirit biaya dengan tinggal lebih dekat dengan lokasi kerja. Saat itu, Dul hanya memiliki sepeda ontel sebagai transportasi utamanya. Kepindahan Dul dan Ari juga dikarenakan karena mereka ingin menjalankan kehidupan keluarga yang sakinnah, mawaddah, warahmah, dan mandiri. Saat tinggal di jalan karimun jawa, Desi Putri Kurniasari anak ketiga Dul pada tanggal 12 Desember 1994 lahir. Saat itu Dul akhirnya mampu membeli sepeda motor pertamanya yaitu Honda ‘cethol’ merah. Dengan sepeda itu, transportasi keluarga Dul menjadi semakin lebih mudah. Sayang, tak berapa lama ada cobaan yang menghadang keluarga Dul. Ari kecelakan saat mengendarai Honda c50 kesayangannya, Ari mengalami putus kaki, yang mebuat kakinya harus dijahit, dan dia terpaksa harus memakai alat bantu jalan selama hampir 1 tahun. Hal ini semakin membuat Dul sayang kepada istrinya.



Dul dan Ari

Dul, Ari, Enis (anak pertama)

Suasana pernikahan Dul dan Ari

Yogi (anak kedua Dul)

Desi (akuuuuuuuuuu)

Keluarga Bahagia
Dul membeli sebuah rumah di Perumahan Griya Giri Mulya, setelah merasa uang yang telah ia tabung selama ini cukup. Membeli rumah adalah salah satu hal yang sangat diidam-idamkan bagi setiap pasangan suami istri. Pada saat anak ketiganya berumur 2 tahun, Dul pindah ke perumahan yang lebih dikenal dengan perumahan klatak tersebut. Disinilah kehidupannya lebih banyak terjadi. Dalam karier pekerjaan Dul, sempat mengalami naik turun. Namun, dia selalu bersabar menerima segala cobaan yang ada. Dipikirannya, yang penting dia harus tanggungjawab terhadap kelangsungan hidup istri dan anak-anaknya, dia dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai pendidikan yang tinggi, hingga anak-anaknya mendapatkan pekerjaan yang layak. Saat ini, kehidupan Dul sangatlah tenang bersama istri dan ketiga anaknya. Dengan keluarga yang sederhana itu, dia mendapatkan suatu kenikmatan dan kesenangan sendiri, satu yang selalu ia tekankan dalam hidupnya yaitu berusaha untuk selalu menyenangi hidup. 

Rabu, 15 Februari 2012

Kita Selamanya

Nia melangkahkan kakinya dengan pasti, melewati deretan ruang kelas satu persatu bersama Widya. Satu-persatu mata orang pun berpapasan dengan kedua mata mereka, bibir mereka menyunggingkan senyum hanya sekedar sapa. Usaha yang wajar di lakukan untuk orang yang sesekolah untuk meramahkan diri kepada orang lain. Sekali dua kali senyuman orang yang berpapasan dengan mereka tak terbalas, terkalahkan oleh keasyikan mereka mengumbar cerita-cerita harian. Hingga, ada seseorang yang menghentikan obrolan mereka, menyapa Nia dengan sangat akrab, keakraban itu mengisyaratkan bahwa mereka tidak hanya kenal setahun atau dua tahun saja. Reza teman Nia, akrab. Antusias, Reza menepukkan telapak tangannya ke telapak tangan Nia, orang-orang biasa menyebutnya 'Tos'-_- tanda pertemanan. Nia hanya membalas senyum, sembari menatap tajam mata Reza, Nia sadar ada rasa yang menyeruak sengit dalam hatinya, kerinduan yang menumpuk pada temannya yang satu itu, yak teman. Nia terpisahkan oleh kesibukan selama beberapa hari. Sayang, Nia tak melakukan apa-apa, mulutnya kaku. Ajakan Widya untuk segera ke Musholla membuyarkan tatapan tajam Nia ke Reza. Nia berpamitan. 
" Eh Nia!" Ada yang menarik tangan Nia.
"Kita Selamanya ya." 
Kata-kata yang barusan terlontar dari mulut Reza, terasa sumbang di telinga Nia. Berasa ada yang memutus nadi Nia saat itu, tapi itu hanya ke-lebay-an belaka. Nia dibekukan keadaan, itu istimewa. 

Kita Selamanya
Bondan Prakoso and Fade 2 Black

[intro] C G/B Am G F Em Dm G 

eiyo… it’s not the end, it’s just beginning 


[titz] C G/B Am G F Em Dm G 
ok detak detik tirai mulai menutup panggung 
tanda skenario… eyo… baru mulai diusung 
lembaran kertas barupun terbuka 
tinggalkan yang lama, biarkan sang pena berlaga 
kita pernah sebut itu kenangan tempo dulu 
pernah juga hilang atau takkan pernah berlalu 
masa jaya putih biru atau abu-abu (hey) 
memori crita cinta aku, dia dan kamu 

[santoz] C G/B Am G F Em Dm G 
saat dia (dia) dia masuki alam pikiran 
ilmu bumi dan sekitarnya jadi kudapan 
cinta masa sekolah yang pernah terjadi 
dat was the moment a part of sweet memory 
kita membumi, melangkah berdua 
kita ciptakan hangat sebuah cerita 
mulai dewasa, cemburu dan bungah 
finally now, its our time to make a history 

[chorus] 
C     G/B         Am         G  
bergegaslah kawan tuk sambut masa depan 
F        Em            Dm      G 
tetap berpegang tangan, saling berpelukan 
C      G/B      Am          G  
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan 
F        Em       Dm     G 
kenanglah sahabat kita untuk slamanya 

[lezz] C G/B Am G F Em Dm G 
satu alasan kenapa kau kurekam dalam memori 
satu cerita teringat didalam hati 
karena kau berharga dalam hidupku, teman 
untuk satu pijakan menuju masa depan 

saat duka bersama, tawa bersama 
berpacu dalam prestasi (huh) hal yang biasa 
satu persatu memori terekam 
didalam api semangat yang tak mudah padam 

kuyakin kau pasti sama dengan diriku 
pernah berharap agar waktu ini tak berlalu 
kawan kau tahu, kawan kau tahu kan? 
beri pupuk terbaik untuk bunga yang kau simpan 

[chorus] 
C     G/B         Am         G  
bergegaslah kawan tuk sambut masa depan 
F        Em            Dm      G 
tetap berpegang tangan, saling berpelukan 
C      G/B      Am          G  
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan 
F        Em       Dm     G 
kenanglah sahabat kita untuk slamanya 

[intr] C G/B Am G F Em Dm G 2x 


[chorus] 
C     G/B         Am         G  
bergegaslah kawan tuk sambut masa depan 
F        Em            Dm      G 
tetap berpegang tangan, saling berpelukan 
C      G/B      Am          G  
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan 
F        Em       Dm G 
kenanglah sahabat  

C     G/B         Am         G  
bergegaslah kawan tuk sambut masa depan 
F        Em            Dm      G 
tetap berpegang tangan, saling berpelukan 
C      G/B      Am          G 
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan 
F        Em       Dm     G 
kenanglah sahabat kita untuk slamanya 

C     G/B         Am         G  
bergegaslah kawan tuk sambut masa depan 
F        Em            Dm      G 
tetap berpegang tangan, saling berpelukan 
C      G/B      Am          G  
berikan senyuman tuk sebuah perpisahan 
F        Em       Dm     G 
kenanglah sahabat kita untuk slamanya 

[ending] C G/B Am G F Em Dm G C


Mereka sahabat? Nia dan Reza pasti punya persepsi sendiri tentang hubungan mereka saat itu. Saat kembali ke kelas pikiran Nia terpenuhi dengan kata-kata 'Kita Selamanya'. Kata yang sangat aneh. Satu di pikiran Nia, kata kita nggak mungkin akan selamanya segala sesuatu diantara dirinya dan mereka pasti akan berubah. Mungkin saja, suatu hari nanti Nia terpisahkan oleh keadaan dengan Reza, mungkin saja jika bertemu mereka tak lagi bertegur sapa karena suatu hal. Nia secepat mungkin menghapus pikiran buruk itu. Sambil membuka lembar-lembar LKS matematikanya dia bergumam 'Kita akan berubah suatu saat nati, mungkin kelak yang tidak berubah hanyalah kenangan. Kenangan yang manis tidak akan berubah dalam ingatan kita."